Nasionalisme Bukan Aksesoris Tahunan: A. Tarmizi Ingatkan Bangsa Agar Tak Menjadi “Yatim Piatu” Budaya

Nasional169 Views
banner 468x60

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR – Di tengah gempuran arus globalisasi yang kian mengaburkan batas-batas identitas, Ketua Umum Komunitas Peci Hitam, A. Tarmizi, mengeluarkan pernyataan keras sekaligus reflektif mengenai kondisi nasionalisme hari ini.

A.Tarmizi menegaskan bahwa Indonesia sedang menghadapi ancaman serius: padamnya api jati diri di tangan generasinya sendiri.

banner 336x280

“Bangsa ini tidak dibangun di atas kertas, melainkan di atas tetesan keringat dan darah para pendahulu yang bahkan tidak sempat menanyakan, ‘Apa untungnya bagiku?’” ujar Tarmizi dalam keterangannya hari ini, Rabu (18/2)

Ia menyoroti fenomena masyarakat yang kini lebih bangga mengenakan identitas bangsa lain sementara akar budaya sendiri dibiarkan mengering.

Menjaga Api yang Mulai Redup

Bagi Tarmizi, nasionalisme telah mengalami penyempitan makna. Ia menekankan bahwa mencintai tanah air melampaui sekadar seremoni formalitas.

“Nasionalisme bukan sekadar berdiri tegak saat lagu kebangsaan diputar atau memasang bendera setahun sekali. Nasionalisme adalah kesadaran bahwa kita adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar dari ego kita sendiri,” tegasnya.

Baca juga AHMAD TARMIZI: REFORMIS BERDARAH PRAJURIT YANG TOLAK KOMPROMI DENGAN KORUPSI

Mengapa Kita Harus Khawatir?

A.Tarmizi membedah tiga dampak fatal jika rasa memiliki terhadap bangsa ini terus tergerus:

  • Kehilangan Jati Diri: Tanpa nasionalisme yang kuat, individu akan mudah diombang-ambingkan oleh tren luar tanpa memiliki prinsip atau “jangkar” moral yang kokoh.
  • Hilangnya Kepedulian: Memudarnya cinta tanah air berbanding lurus dengan meningkatnya sikap apatis terhadap sesama warga negara.
  • Beban Sejarah: Sebagai pemegang estafet kepemimpinan, membiarkan api nasionalisme padam berarti mengkhianati masa depan generasi mendatang.

Nasionalisme Modern: Perang Melawan Diri Sendiri

A.Tarmizi mengajak masyarakat untuk mendefinisikan ulang perjuangan di era modern. Jika dulu musuh terlihat nyata dengan senjata, kini musuh adalah integritas pribadi.

Nasionalisme hari ini adalah tentang tidak korupsi, bangga menggunakan produk lokal, melestarikan budaya, dan menjaga persatuan di tengah perbedaan.

“Jangan biarkan kemajuan zaman membuat kita lupa jalan pulang. Karena sehebat apa pun kita berkeliling dunia, hanya di tanah inilah kita memiliki identitas yang sesungguhnya,” tutup Tarmizi dengan lugas.

Sebagai penutup, ia melontarkan semboyan khas yang menggetarkan:
“Peci Hitam: Menunduk Hanya Saat Berdoa, Tegak Saat Menantang Dunia.”

Tentang Komunitas Peci Hitam:

Komunitas Peci Hitam adalah organisasi yang berfokus pada penguatan karakter bangsa, pelestarian nilai-nilai luhur nusantara, dan pembangunan integritas pemuda melalui jalur budaya dan sosial.

(Her)

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 comments